Bagi ekonomi Indonesia, 2014 bukan tahun yang mengecewakan.
Namun, angka statistik indikator ekonomi tidak menggembirakan. Isu global
seperti penguatan ekonomi Amerika Serikat dan melorotnya pertumbuhan ekonomi
Cina menjadi perhatian sektor ekonomi sepanjang 2014 yang menyita perhatian
dari optimisme program pemerintahan baru.
Kondisi ekonomi dunia selama tahun ini kerap menjadi kambing
hitam pemburukan ekonomi nasional. Sejak awal 2014, kinerja ekonomi Indonesia
sudah menunjukkan pelambatan. Angka pertumbuhan pada kuartal I 2014 turun di
level 5,21 persen dari kuartal terakhir 2013 yang mencapai 5,72 persen. Angka
pertumbuhan ekonomi pada dua kuartal berikutnya bahkan lebih buruk.
Pelemahan ekonomi Cina berdampak signifikan terhadap kinerja
ekspor nasional. Pertumbuhan ekspor turun tajam. Pada Oktober 2014, ekspor
tercatat melambat dari tahun sebelumnya hingga 2,21 persen. Pelemahan
pertumbuhan ekonomi turut menurunkan nilai impor menjadi 2,21 persen pada
Oktober 2014.
Memburuknya kinerja perdagangan juga terpengaruh penurunan
harga komoditas, terutama di sektor pertambangan. Kondisi itu masih ditambah
dengan kebijakan domestik berupa larangan ekspor mineral mentah pada awal
tahun. Larangan yang berlaku sejak 12 Januari 2014 itu sontak membuat neraca
perdagangan Indonesia sepanjang 2014 mengalami tekanan. Kebijakan ini bahkan membuat
raksasa tambang dunia, Newmont Mining Corporation, terpaksa menghentikan
kegiatan operasional mereka di Nusa Tenggara Barat. Pemburukan kinerja itu
membuat 2014 bisa dikatakan sebagai tahun sunset bagi industri pertambangan
mineral Indonesia.
Kondisi yang tidak lebih baik juga terjadi di sektor minyak
dan gas (migas). Bagi negara-negara pengekspor minyak, 2014 bisa dikatakan
sebagai tahun yang buruk. Dalam kurun Juni sampai awal Desember, harga minyak
mentah di pasar dunia anjlok hingga 40 persen. Lazimnya, penurunan harga minyak
mentah akan berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM). Di dalam negeri
penurunan harga minyak dunia justru direspons pemerintah dengan menaikkan harga
jual BBM bersubsidi per 18 November lalu.
Nilai ekspor Indonesia selama 2014 pun tidak tertolong
dengan nilai tukar rupiah. Perbaikan ekonomi di AS dan rencana bank sentralnya
membuat kebijakan suku bunga menjatuhkan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah
jatuh di titik terendah sejak krisis 1998 menjelang akhir tahun. Namun, nilai tukar rupiah sudah menembus
level Rp 12.242 sejak awal tahun. Penguatan rupiah hanya terjadi pada kuartal I
2014 ke level sekitar Rp 11.000 karena masuknya dana investasi asing.
Kondisi ekonomi makro domestik maupun global turut
memengaruhi kinerja industri keuangan. Tahun ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
mulai mengawasi dan memungut iuran industri perbankan nasional. Meski
pengawasan terhadap perbankan lebih terintegrasi, pemburukan ekonomi domestik
turut menyurutkan ekspansi kredit perbankan. Kompetisi di industri perbankan
pun bisa jadi semakin ketat setelah tahun ini Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
menyelesaikan penjualan Bank Mutiara. Bekas Bank Century itu dibeli lembaga
keuangan asal Jepang, J-Trust dengan nilai Rp 4,41 triliun, lebih rendah dari
angka penyelamatan Rp 6,7 triliun.
Kinerja pasar modal terbilang cukup moncer pada tahun ke-37
pengaktifannya. Sepanjang 2014, indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa
kali membukukan rekor. Tak hanya tercermin dari kenaikan IHSG, membaiknya kinerja
pasar modal nasional juga terlihat dari peringkatnya yang berada di urutan
ketiga di antara negara-negara Asia pada Agustus lalu. Namun, mendekati
pengujung tahun, IHSG justru kerap mengalami koreksi.
Industri keuangan syariah, khususnya perbankan syariah
kinerjanya selama 2014 juga cenderung melambat. Pertumbuhan perbankan syariah
tahun ini diperkirakan hanya di kisaran 10-13 persen. Realisasi pertumbuhan year on year sampai
Oktober 2014 baru 13 persen dengan aset mencapai Rp 260,56 triliun. Sementara
itu, pangsa pasar bank syariah masih belum mampu menembus lima persen, tepatnya
4,9 persen.
Meski demikian, kondisi ekonomi domestik tidak sepenuhnya
mengecewakan. Selama 2014 Indonesia masih memiliki iklim usaha yang relatif
baik untuk mengundang investor. Kondisi ini tergambar dari lonjakan realisasi
investasi yang mencapai 16,8 persen sepanjang Januari-September 2014
dibandingkan periode yang sama pada 2013. Investasi asing masih mendominasi,
namun pertumbuhan investasi domestik lebih signifikan. Pada kuartal III 2014,
investasi asing mendominasi hingga 65,3 persen dari total investasi. Namun,
nilai investasi asing pada periode itu hanya tumbuh 16,9 persen (yoy).
Sementara, investasi domestik melonjak hingga 16,9 persen.
Sumber : www.republika.co.id
Pembahasan:
Perekonomian Indonesia pada 2014 memang dinilai tidak
menggembirakan, kondisi perekonomian dunia menjadi kambing hitam dari
terpuruknya perekonomian nasional. Sejak awal tahun kinerja perekonomian memang
sudah menunjukan perlambatan kinerja.
Lemahnya pertumbuhan ekonomi dilihat dari berbagai sector,
baik dari ekspor, perdagangan, pertambangan, migas, serta industry keuangan. Namun
kinerja pasar modal dinilai cukup baik, karena IHSG beberapa kali mencetak rekor dengan membaiknya
pasar modal nasional menduduki posisi ketiga dari Negara – Negara Asia,
sayangnya pada akhir tahun IHSG harus menghadapi koreksi. Meskipun begitu,
kondisi ekonomi domestic masih relative baik untuk mengundang investor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar