Minggu, 25 Januari 2015

Ini yang Bikin Rupiah Sulit Perkasa Seperti Dolar AS

Bank Indonesia (BI) membeberkan akar permasalahan yang mengakibatkan nilai rukar rupiah terdepresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Tak heran bila Bank Sentral memperkirakan asumsi kurs rupiah pada rentang Rp 12.200-Rp 12.800 per dolar AS di tahun ini.
Gubernur BI, Agus DW Martowardojo menyebut, persoalan pertama, Indonesia membukukan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) pada 2013 sebesar US$ 29 miliar dan susut menjadi US$ 25 miliar pada 2014. Rapor merah defisit juga ada di neraca perdagangan Indonesia.
"Semua negara ASEAN surplus, kecuali Indonesia defisit. Kondisi ini nggak memungkinkan nilai tukar rupiah jadi lebih kuat, apalagi ekonomi Tiongkok melemah sehingga memicu penurunan harga komoditas dan bikin rupiah tertekan," jelas dia di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2015) malam.
Dari catatan Agus, kurs rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sebesar 1,7 persen di 2014. Masih jauh lebih rendah dibanding pelemahan nilai tukar mata uang dolar Singapura 4 persen, Malaysia 6 persen.
Problem kedua, sebut dia, karena pengaruh utang luar negeri (ULN) swasta yang lebih tinggi dibanding ULN pemerintah tanpa lindung nilai (hedging). ULN swasta mencapai US$ 161 miliar dan ULN pemerintah US$ 133 miliar.
"Risikonya nilai tukar rupiah menjadi likuiditas over leverage kalau terjadi perubahan," ujarnya.
Permasalahan ketiga kedalaman pasar keuangan di Indonesia masih sangat dangkal sehingga apabila ada lonjakan permintaan dolar AS, terjadi guncangan karena suplai kurang memadai.
Selain itu Undang-undang (UU) lalu lintas devisa di Indonesia diberikan kebebasan. Tidak seperti di Thailand dan Singapura di mana devisa hasil ekspor ditahan beberapa bulan atau ditukar ke mata uang mereka.
Di samping itu, BI sambung Agus, pemerintah akan menjaga inflasi di bawah 4 plus minus 1 persen melalui reformasi struktural mengingat problem mendasar kurs rupiah terkait pula dengan subsidi bahan bakar minyak (BBM). "Selama 20 tahun terakhir, isu kita cuma subsidi BBM dan listrik, pembangunan infrastruktur, perizinan termasuk anti korupsi. Reformasi struktural kita mencabut subsidi Premium dan subsidi tetap Solar sehingga ini dihormati dunia. Tinggal apa benar penghematan ini bisa dialihkan ke sektor produktif," cetus dia.
Sementara persoalan kelima, kata dia, datang dari normalisasi kebijakan moneter di AS sehingga berpeluang memacu penguatan dolar AS. "Kita harus perbaiki CAD, karena agak sulit menjaga kurs rupiah di level stabil kalau masih seperti ini," ucap Agus. (Fik/Ndw)


Pembahasan:
Begitu banyak penyebab yang membuat rupiah sulit perkasa seperti Dollar, namun bukan berarti nilai rupiah tidak bisa menjadi lebih kuat dari sekarang. Dengan pengaturan mengenai devisa dari hasil ekspor seperti mencontoh Negara tetangga Singapura dan Thailand mungkin akan bisa sedikit membantu menguatkan nilai tukar rupiah.
Pemerintah sudah bisa menemukan penyebab dari sulitnya nilai tukar rupiah meningkat, kini hanya bagaimana mencari jalan keluar agar mata uang rupiah bisa meningkat dan tidak terus terdepresiasi.
Jika utang luar negeri baik dari swasta ataupun pemerintah memberikan pengaruh yang cukup besar, pemerintah bisa menekan utang luar negeri agar tidak bertambah lebih besar.

Subsidi BBM dan listrik, pembangunan infrastruktur, perizinan dan pemberantasan korupsi pun ikut mempengaruhi nilai tukar rupiah. Jika pencabutan subsidi Premium dan solar cukup berpengaruh besar, maka tidak ada salahnya jika Premium dan Solar dihentikan pemberian subsidinya. Isu politik mengenaik pemberantasan korupsi pun ternyata berpengaruh pada nilai tukar rupiah, karena hal tersebut juga bisa menjadi pertimbangan bagi para investor untuk memberikan kepercayaannya untuk menanamkan saham ataupun modalnya di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar