Bank diprediksi
bakal tetap bertahan meski laju kredit melambat. Gubernur Bank Indonesia Agus
Martowardojo mengungkapkan, pihaknya masih membahas target pertumbuhan kredit
perbankan tahun depan dengan Otoritas Jasa Keuangan. Hal ini dilakukan agar
nantinya dapat memberikan arahan pada industry perbankan sebagai salah satu pendorong
pertumbuhan ekonom tahun depan.
“Nanti
di Bankers Dinner akan kami sampaikan (arahan pertumbuhan kredit),” tutur Agus
di Bandung, kemarin. Pemerintah telah menargetkan perekonomian pada 2015 tumbuh
5,5 – 5,8 persen.
Badan
Pusat Statistik sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi masih melambat hingga
kuartal ketiga tahun ini menjadi 5,01 persen. Pemerintah memprediksi sepanjang
tahun ini mencapai 5,1 – 5,2 persen.
Bank
sentral memproyeksikan ekonomi tumbuh 5,4 – 5,6 persen tahun depan. Sedangkan
kredit industry perbankan diprediksi bakal naik 15-17 persen pada 2015 untuk
mengendalikan tekanan deficit neraca transaksi berjalan.
Sebelumnya,
Agus Martowardojo mengimbau kalangan perbankan agar turut menekan penyaluran
kreditnya agar tumbuh 15 – 17 persen tahun ini. Sejalan dengan itu, bank
sentral juga akan mendorong komposisi kredit bank, terutama ke sector – sector
produktif berorientasi ekspor dan menyediakan barang substitusi impor serta
mendukung upaya peningkatan kapasitas perekonomian.
Ekonom
dari Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, memperkirakan pada masa mendatang
kalangan perbankan akan lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman pada tahun
ini. Kondisi ini akibat lesunya perekonomian akibat ketidakpastian global,
situasi politik dalam negeri, dan masih besarnya deficit transaksi berjalan.
Perbankan
juga diperkirakan bakal lebih hati – hati menggelontorkan kredit pembiayaan
kepada eksportir. “Bank bisa memilih debitor berpendapatan dolar tapi biaya
produksinya dalam rupiah, misalnya,” tutur Fauzi. Adapun ekonom dari
Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, optimistis bank – bank bakal
tetap bertahan meskipun laju pertumbuhan kredit diperlambat. “Bank – bank juga
pasti masih bisa mencetak laba di tengah tekanan kredit karena ada kompensasi
atau kenaikan fee based income-nya,” tuturnya ketika dihubungi.
Sumber : Koran Tempo 13 November 2014, Jakarta
Pembahasan:
Akibat
masih lambatnya perekonomian di Indonesia, maka BI dan OJK membahas target
kredit perbankan baru guna meningkatkan lajunya pereknomian di Indonesia.
Industry perbankan dihimbau untuk lebih selektif dalam meminjamkan dana
perbankan pada industri – industri kecil maupun besar.
Hal tersebut dikarenakan kondisi global yang tidak menentu
serta isu – isu politik yang mempengaruhi lajunya perekonomian di Indonesia. Bank
Sentral pun akan membantu dengan mendorong komposisi produk dari sector ekspor
import guna meningkatkan lajunya perekonomian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar