Minggu, 23 November 2014

Sinergi Meningkatkan Investasi dan Ekspor

Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat membentuk West Java Incorporated untuk menyinergikan pemangku kepentingan dalam mengeksekusi potensi perekonomian. Namun, provinsi yang ditempati 54 persen industry manufaktur nasional ini perlu menjaga keseimbangan karena merupakan lumbung pangan nasional.
Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo menjelaskan, West Java Incorporated (WJI) atau forum pengembangan ekonomi daerah ini merupakan salah satu bentuk implementasi peningkatan investasi dan ekspor.
“Sumber pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang akan kami berikan penekanan pada investasi, kegiatan manufaktur, dan kegiatan yang akan memberikan nilai tambah pada ekspor,” ujar Agus seusai meresmikan WJI, di Gedung Sate, Bandung, Rabu (12/11).
WJI merupakan pionir pengembangan regional investor relation unit (RIRU). Langkah ini memperhatikan posisis strategis Jabar dalam perekonomian nasional, seperti porsi terhadap produk domestic bruto nasional yang sebesar 14 persen. Selain itu, kontribusi ekspor nonmigas 18 persen atau terbesar nasional dan kontribusi terhadap inflasi nasional 18,5 persen. Provinsi ini juga menyumbang penyediaan padi nasional sekitar 30 persen.
Sebagai pionir dalam WJI, Agus mengharapkan, keberhasilan – keberhasilan itu mampu memacu daerah lain membangun hal yang sama.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyatakan, WJI berupaya melembagakan komunikasi yang selama ini telah ada. Dengan WJI, persoalan birokrasi, keuangan, dan persoalan dunia usaha dapat segera ditangani.
Ahmad Heryawan mencontohkan, izin usaha di Singapura selesai dalam empat titik, sedangkan di Indonesia 17 titik.
Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah VI Jabar – Banten Dian Ediana Rae menambahkan, ditengah perekonomian domestic yang masih menghadapi masalah fundamental dan structural, kondisi produksi dan daya saing Indonesia, khususnya Jabar, masih rendah. Penyelesaian masalah ini memerlukan kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak.
Pertanian dan Perikanan
                Sebelumnya, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perbankan dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di BI Bandung, Selasa. Rapat juga membahas perbaikan infrastruktur sector pertanian dan perikanan sebagai salah satu focus pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi 2015.
                Dalam rapat itu, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan 5,1 – 5,2 persen. Perbaikan infrastruktur pertanian dan perikanan diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 5,5 – 5,8 persen pada 2015. Agus juga menekankan pembenahan sector pertanian dan perbaikan infrastruktur sebagai focus utama. Menurut dia, perbaikan itu bisa mengakselerasi pengembangan ekonomi daerah.

Sumber : Kompas, 13 November 2014

Pembahasan :
                Meningkatkan investasi dan ekspor sangat perlu dilakukan guna menambah pendapatan Negara, peningkatan tersebut dapat melalui industry manufaktur maupun perikanan dan pertanian.
Negara kita sangat kaya akan hasil perikanan dan pertanian, banyak laut dan juga perkebunan yang bisa dieksplore, ikan dan hasil laut lainnya dapat diekspor  . Industry manufaktur pun berjalan sangat baik, karena banyak produk – produk manufaktur dari Negara kita seperti kaos dan tas yang diekspor ke Negara tetangga. Hal tersebut membuktikan bahwa produk Negara kita sudah diakui kualitasnya oleh dunia.

                Namun untuk peningkatan kualitas produk yang lebih baik dan hasil yang lebih maksimal, diperlukan peningkatan infrastruktur yang baik dalam prosesnya. Seperti diketahui infrastruktur pada sector pertanian masih belum berkembang, sehingga hasil yang dihasilkan kurang optimal. Maka pemerintah perlu segera membenahi infrastruktur yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar