Selasa, 25 November 2014

Pengusaha Nilai BI Tergesa-gesa Naikkan BI Rate

JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan menjadi 7,75 persen dinilai langkah yang tergesa-gesa. "Iya (tergesa-gesa) langsung dia jebret," ucap Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Handaka Santosa, Rabu (26/11/2014).
Handaka mengatakan, tidak seharusnya pemerintah hanya memikirkan bagaimana menekan inflasi, namun mengabaikan pertumbuhan ekonomi. Kenaikan BI rate, Handaka menambahkan, menyebabkan daya beli masyarakat berkurang 5 persen. "Inflasi dijaga dengan ditekan itu beda," kata Handaka.
Handaka mengatakan, kenaikan suku bunga menyebabkan bermacam-macam angsuran yang harus dibayar masyarakat tambah mahal. "Nah itu menyebabkan daya belinya turun, karena dia akan menyelamatkan angsurannya dulu dong," kata Handaka.
Dampak dari turunnya permintaan pasar, menyebabkan pabrik-pabrik yang memproduksi pun turun. Akibatnya lagi, penyerapan tenaga kerja akan berkurang. Dampak lainnya, penggunaan bahan mentah untuk produksi juga berkurang.
"Menurut saya jangan terlalu tergesa-gesa, harus diamatin dulu. Ekonomi volume itu penting, jangan enak-enak aja menekan inflasi," kata Handaka.
BI mengumumkan kenaikan suku bunga acuan, hanya selang sehari setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sumber : www.kompas.com

Pembahasan :
Pengusaha merasa bahwa BI sepatutnya tidak perlu terburu – buru untuk menaikkan suku bunga. Karena hal tersebut dapat memberikan dampak tingkat daya beli masyarakat. Masyarakat jadi enggan untuk membeli barang karena harganya akan semakin mahal.
Seharusnya pemerintah tidak hanya memikirkan penekanan inflasi, namun juga harus memikirkan mengenai pertumbuhan ekonomi. Karena yang dirasa oleh pengusaha bahwa pemerintah menekan inflasi namun tidak mempertimbangkan mengenai pertumbuhan ekonomi.
Jika daya beli masyarakat turun akan menimbulkan dampak yang cukup luas. Industry – industry akan mengurangi poduksinya sehingga akan menimbulkan kelebihan pekerja karena proses produksi yang sedikit. Untuk mengurangi penekanan biaya maka pihak industry akan mengurangi karyawan, sehingga akan menimbulkan pemutusan kerja (PHK).

Dampak yang ada akan cukup luas, maka pengusaha mengharapkan agar pemerintah memikirkan lagi mengenaik penekanan inflasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar